Illustrasi Energi Keberanian. Sumber: https://p0.pxfuel.com

Energi Keberanian

Pande K. Trimayuni
Pande K. Trimayuni
Ketua Departemen Politik DPP ICHI

Oleh: Pande K. Trimayuni

Wabah Covid19 terasa menguras energi. Fisik dan mental terpengaruh. Ada yang mulai kena psikosomatis, mendengar kata Corona tenggorokan langsung gatal dan badan demam. Kita sudah mulai merasa letih. Padahal menurut hitungan, Indonesia belum sampai puncak. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat sekarang sedang di puncak pandemi. China sudah melewati puncak dan dianggap selesai, meskipun sekarang diwaspadai muncul second wave (gelombang kedua) pandemi disana.

Apakah kita takut pada virus Corona? Jika direnungkan, sebenarnya yang kita takutkan itu bukan virus coronanya, tetapi akibat fatalnya: Kematian. Begitu menakutkan, hingga bayangannya seperti mengintai. Apalagi ketika yang menjadi korban adalah orang yang kita kenal. Ancaman menakutkan itu serasa semakin mendekat. Semua menjadi takut. Energi kolektif yang tercipta kemudian adalah kepanikan dan ketakutan. Sebagai pelipur, beberapa orang mulai memborong barang-barang, bahkan melebihi apa yang mereka perlukan. Ternyata tidak bisa juga menghilangkan ketakutan itu.

Merasa takut itu normal. Namun memelihara ketakutan tanpa solusi bukanlah sesuatu yang bijak. Bahkan bisa merugikan diri sendiri. Para peneliti medan elektromagnetik menemukan bahwa getaran elektromagnetik yang dimiliki oleh virus sama dengan getaran yang dimiliki seseorang ketika sedang dalam kondisi tidak sehat atau ketakutan, yaitu dibawah 6500 angstrom. Semakin takut, tubuh justru semakin rentan terhadap penyakit.

Penting membekali diri dengan informasi yang benar. Jalani nasehat kesehatan: sering cuci tangan, pakai masker, kurangi keluar rumah, jaga jarak jika terpaksa keluar rumah dan hubungi tenaga medis jika memiliki symtom. Sikap positif, optimis dan makanan yang baik akan menjadi benteng kesehatan yang kuat. Saat kita berpikir positif, bersyukur, berserah diri maka tubuh akan memproduksi hormon endorfin, hormon kebahagiaan dan kesehatan. Bersiap dengan segala kemungkinan. Kesiapan akan memunculkan keberanian.

Bangsa ini punya darah kekesatriaan yang diturunkan oleh leluhur kita. Kemerdekaan Bangsa Indonesia diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa dan raga, bukan pemberian. Kita sudah diajarkan untuk berjuang. Dulu para pahlawan bangsa menghadapi musuh dengan wujud phisik yang kelihatan nyata, secara tiga dimensi (3D). Tantangan dan ancaman yang kita hadapi dimasa sekarang tidak hanya berwujud tiga dimensi (3D) tetapi lebih banyak multi dimensi. Kampanye negatif, propaganda, hoax, serangan cyber, dan juga wabah penyakit global adalah bentuk-bentuk “musuh” kekinian. Jika kita lalai, dampaknya juga luar biasa, menyangkut kesejahteraan seluruh warga negara, keamanan dan kedaulatan kita sebagai bangsa.

Oleh karenanya, selain di level individu, keberanian juga sangat penting dimunculkan oleh para pembuat keputusan. Mesti ada plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Ada perencanaan yang sistematis dan terukur, apa saja opsi-opsi yang ada menghadapi wabah Covid19 ini, bagaimana cost-benefitnya, bagaimana dampak jangka pendek dan jangka panjangnya, bagaimana memitigasi resiko, semua mesti sudah diperhitungkan. Mesti serius dan berani berdasar pada hitung-hitungan yang matang.

Belajar dari pandemi sebelumnya, beberapa ahli memperkirakan bahwa paling lambat bulan Juni 2020, wabah Covid19 ini semestinya sudah selesai. Ilmuwan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, juga saat ini kabarnya sudah menemukan obat dan vaksin, sedang diji cobakan. Ini tentu menjadi penyemangat untuk kita.

Masalah akan selalu ada. Dalam hidup, bukan tentang masalahnya, tetapi sikap mental seperti apa yang kita kembangkan dalam menghadapi setiap masalah, sebagai pribadi maupun sebagai bangsa. Kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi, namun kita bisa mengontrol bagaimana kita harus bersikap. Jangan takut. Tidak perlu panik. Hadapi. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Maju Tak Gentar, hiduplah dengan berani.